Sebuah ilusi tertulis diatas selembar kertas putih tak bertuah, ialah suara hati yang mengurai serentetan cerita, seorang gadis manis berwajah cantik, beralis indah bak semut beriring, bisa dikata ia adalah karunia tuhan yang tak ternilai.
Ia memang gadis yang baru ku kenal dalam beberapa jam saja, mungkin masih butuh waktu untuk mengenalmu lebih jauh "itu kata dari ujung jariku" tapi dalam hatiku kau adalah wanita penyemangatku, wanita yang bisa membuatku lebih berwarna. Lebih indah dari hari-hari ku sebelumnya.
***
Benarkah kamu orangnya?
Yang akan menjadi pendampingku, menemani hari hariku tak hanya satu dua minggu, tapi selamanya.
Benarkah kamu orangnya?
Yang sanggup menerima kekuranganku yang mau memaklumi tingkah konyolku
Menegur jika salah, memeluk saat gelisah. Semoga benar, kamulah orangnya.
Ini pintaku "tetaplah bersamaku meski aku sedang sangat menyebalkan. Tetaplah bertahan walaupun dariku tak ada yang bisa kamu banggakan. Jangan bosan menegur saat aku berkali-kali mengulang kesalahan. Jangan lelah mendengarkan segala resah yang aku keluhkan. Terlalu banyak permintaanku, karena yang mau memaklumi banyak inginku hanya dirimu"
Aku selalu berharap suatu saat nanti, aku bisa mengecup keningmu disaat aku terbangun dari tidurku, ketika aku berangkat dan pulang dari aktivitasku yang sangat melelahkan.
Ini harapanku, mungkin hanya akan menjadi harapan sebab bibir ini selalu terkunci ketika hendak meminta Ia untuk menjadi kekasihku.
Aku mungkin bukanlah lelaki romantis yang bisa membuatmu bahagia. aku hanyalah lelaki humoris yang bisa membuatmu tersenyum canggung karena ucapanku tidak begitu berarti.
Inilah aku apa adanya... Atau mungkinkah kamu orangnya?