Minggu, 27 Januari 2013

Ingatan Kecil Masa Indah


Objekku kali ini adalah seorang anak kecil dengan seragam putih merah yang melintasi jalan setapak melalui depan rumahku menuju suatu tujuan
dengan begitu meyakinkan.

Dengan memainkan jari-jari tangannya, tak
luput dia memperhatikan setiap
jalan yang dia lewati.
Beberapa kendaan roda dua melaju disekitarnya.
Hanya melihat sekilasa
tanpa memperdulikan dia terus
melanjutkan jalannya.

Ada seorang ibu dengan membawa beberapa
dagangan tiba-tiba melemparkan
senyum kearahnya. Lalu dia tertawa, mungkin itu yang menambah semangatnya untuk berjalan lebih
cepat. Bukan lari karena takut, tapi
itu adalah semangat positif yang
muncul dari seulas senyum.

Sebuah mobil kijang melintas
disampingnya. Dia langsung
berhenti, berjalan pelan untuk
menepi sambil tak lepas
memandang sampai mobil itu hilang di kejauhan. Ntah apa yang mungkin terlintas dibenaknya.

Apakah berfikir
seandainya dia bisa menaiki mobil
sampai tujuan yang dituju, karena
perjalanannya masih jauh, atau
malah dia berfikir begitu
menyenangkan berjalan kaki di pagi hari. :)

Yang pasti dia terus berjalan,
dengan pikiran yang terus
berkembang, lambaian tangan dan
kakinya tak pernah berhenti hingga ia hilang di kejauhan, dan akupun berhenti memperhatikannya.

Aku jadi mengingat kembali masa
kecil, saat kurang lebih seusia
dengan dia, saat aku berseragam
puti merah dipagi hari kemudian
melewati jalan panjang ( jl. Transmigrasi Lalundu*Sulawesi tengah ) untuk sampai ke suatu tempat dengan penuh harapan. Mungkin dulu bukan aku yang memiliki harapan itu.

Aku hanya menjalani segala harapan orang tua yang ditanamkan padaku.
tanpa mengerti apa arti perjalanan
itu. Aku hanya berjalan mengikuti
irama waktu, setapak demi setapak hingga sampailah aku kesini... ( MANADO )
SEKARANG.

Ketika kusadari ternyata aku yang
sekarang bukanlah aku yang dulu.
Begitu banyak perubahan yang
ternyata telah aku alami dalam
perjalanan waktuku. Dari seragam
putih merah berganti putih biru dan terus dengan putih abu-abu, lalu sekarang lepas dengan kebebasan.
Aku mulai berfikir lagi, sekarang aku berjalan bukan hanya dengan
harapan orang tuaku, tapi tanpa
kusadari aku telah menciptakan
harapan sendiri dalam perjalananku.

Aku berjalan bukan hanya untuk
mengerti arti tawa, tapi juga belajar arti tangis. Aku semakin menyadari
perkembangan pikiran-pikiranku
hingga saat ini, padahal dulu aku
hanya seorang ( Boca Lelaki kecil Tak Berdaya ) yang
sambil melewati jalan setapak di
sepanjang sawah-sawah hijau
berfikir untuk mewarnai hari dengan apa hari ini?

Sekarang aku semakin menyadari
perubahan itu….
Dulu, aku bisa memiliki apa yang
aku inginkan tanpa harus kelelahan, tanpa harus berkorban, tanpa harus kecewa. Dulu, aku tidak peranah
merasa kesepian, tidak pernah
resah, tidak pernah merasa takut,
selalu nyaman saat setiap hari aku
bisa melihat orang tua disampingku. Dulu, aku selalu bisa menertawakan setiap kebodohan yang aku lakukan.

Jujur, aku rindu masa itu. Saat
pikiran bebas dari segala beban.
Saat keceriaan bisa mewarnai setiap detik perjalanan hariku. Aku rindu
dengan jalan setapak yang pernah
kulangkahi dengan kaki mungilku
dulu.

Masihkah ada kedamaian itu?
Aku hanya sedang berfikir sekarang,

TERNYATA AKU TELAH DEWASA…

Kamis, 10 Januari 2013

Ibu Jawablah.

Tulisan ini Tak berarti apa-apa Untuk... Arti seorang ibu
Bahasa ini Tak menjadi apa-apa Akan... Arti seorang ibu

IBU...

Engkau memang
luar biasa!
Tiada tanding...
Tiada banding...

IBU...!

Bolehkah aku
bertanya!
Mengapa Engkau
korbankan semua
hidupmu?
Sedang
Engkau...tampak
begitu lelah

IBU...!

Tolong sampaikan
padaku
Dengan apa Engkau
kan tersenyum
Dari mana,
kubawa...secuil
bahagia

IBU...!

Ijinkan aku
menangis
Melihat letih,
guratan di wajahmu
Semoga, kan
menjadi catatan
hidup
Kelak, menuju

_____________________________________

Tangis tawa selalu kuingat senyummu ibu.

Puisi Buat Ibu

Ibu....
Hati ini Merindukanmu Jiwa ini selalu menantimu Wajahmu selalu Tersirat di ingatanku Senyummu selalu ku Damba

Ibu

       Kadang aku menangis histeris Bila ku ingat tawa dan candamu
       Lesung indah pipimu itu selalu terlihat di ingatanku
       Rambut terurai dengan wajah nan Cantik, takkan ku lupa hingga akhir hayatku

Dua belas tahun silam kau meninggalkanku, adikku kakakku dan saudara-saudaraku

Bu semoga engkau damai di sisiNYA Bahagia Dengan Duniamu Saat ini Ibu Tunggulah aku di pintu Surga kita pasti akan Berjumpa...

I Love U Mom
--------------------------------------------

walaupun puisi ini tidak indah namun ini karyaku buat ibuku yang telah meninggalkanku Di tahun 1997...
Rintihan hati...