Objekku kali ini adalah seorang anak kecil dengan seragam putih merah yang melintasi jalan setapak melalui depan rumahku menuju suatu tujuan
dengan begitu meyakinkan.
Dengan memainkan jari-jari tangannya, tak
luput dia memperhatikan setiap
jalan yang dia lewati.
Beberapa kendaan roda dua melaju disekitarnya.
Hanya melihat sekilasa
tanpa memperdulikan dia terus
melanjutkan jalannya.
Ada seorang ibu dengan membawa beberapa
dagangan tiba-tiba melemparkan
senyum kearahnya. Lalu dia tertawa, mungkin itu yang menambah semangatnya untuk berjalan lebih
cepat. Bukan lari karena takut, tapi
itu adalah semangat positif yang
muncul dari seulas senyum.
Sebuah mobil kijang melintas
disampingnya. Dia langsung
berhenti, berjalan pelan untuk
menepi sambil tak lepas
memandang sampai mobil itu hilang di kejauhan. Ntah apa yang mungkin terlintas dibenaknya.
Apakah berfikir
seandainya dia bisa menaiki mobil
sampai tujuan yang dituju, karena
perjalanannya masih jauh, atau
malah dia berfikir begitu
menyenangkan berjalan kaki di pagi hari. :)
Yang pasti dia terus berjalan,
dengan pikiran yang terus
berkembang, lambaian tangan dan
kakinya tak pernah berhenti hingga ia hilang di kejauhan, dan akupun berhenti memperhatikannya.
Aku jadi mengingat kembali masa
kecil, saat kurang lebih seusia
dengan dia, saat aku berseragam
puti merah dipagi hari kemudian
melewati jalan panjang ( jl. Transmigrasi Lalundu*Sulawesi tengah ) untuk sampai ke suatu tempat dengan penuh harapan. Mungkin dulu bukan aku yang memiliki harapan itu.
Aku hanya menjalani segala harapan orang tua yang ditanamkan padaku.
tanpa mengerti apa arti perjalanan
itu. Aku hanya berjalan mengikuti
irama waktu, setapak demi setapak hingga sampailah aku kesini... ( MANADO )
SEKARANG.
Ketika kusadari ternyata aku yang
sekarang bukanlah aku yang dulu.
Begitu banyak perubahan yang
ternyata telah aku alami dalam
perjalanan waktuku. Dari seragam
putih merah berganti putih biru dan terus dengan putih abu-abu, lalu sekarang lepas dengan kebebasan.
Aku mulai berfikir lagi, sekarang aku berjalan bukan hanya dengan
harapan orang tuaku, tapi tanpa
kusadari aku telah menciptakan
harapan sendiri dalam perjalananku.
Aku berjalan bukan hanya untuk
mengerti arti tawa, tapi juga belajar arti tangis. Aku semakin menyadari
perkembangan pikiran-pikiranku
hingga saat ini, padahal dulu aku
hanya seorang ( Boca Lelaki kecil Tak Berdaya ) yang
sambil melewati jalan setapak di
sepanjang sawah-sawah hijau
berfikir untuk mewarnai hari dengan apa hari ini?
Sekarang aku semakin menyadari
perubahan itu….
Dulu, aku bisa memiliki apa yang
aku inginkan tanpa harus kelelahan, tanpa harus berkorban, tanpa harus kecewa. Dulu, aku tidak peranah
merasa kesepian, tidak pernah
resah, tidak pernah merasa takut,
selalu nyaman saat setiap hari aku
bisa melihat orang tua disampingku. Dulu, aku selalu bisa menertawakan setiap kebodohan yang aku lakukan.
Jujur, aku rindu masa itu. Saat
pikiran bebas dari segala beban.
Saat keceriaan bisa mewarnai setiap detik perjalanan hariku. Aku rindu
dengan jalan setapak yang pernah
kulangkahi dengan kaki mungilku
dulu.
Masihkah ada kedamaian itu?
Aku hanya sedang berfikir sekarang,
TERNYATA AKU TELAH DEWASA…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar