Senin, 11 April 2016

INDAH

Terucap dalam anganku, "Seringkali ia menceritakan kisah pilunya, namun ia lupa bukan kenangan buruk yang membuatmu bersedih, tapi kenangan indah yang ia tahu, tak akan terulang kembali".

Sesekali jariku memegang rambutnya, yang halus dan menjuntai dengan panjang hingga itu menjadi mahkota dalam dirinya, perlahan aku membelainya dengan harapan kubisa menenangkannya. Merasa ia telah nyaman bersamaku, iapun membaringkan tubuhnya di atas rerumputan lalu menyandarkan kepalanya di pangkuanku.

Ia pun berucap dari kata lirihnya dengan linangan air mata: aku telah di selimuti rasa ketakutan yang dalam mas, di setiap langkahku mengandung seribu kebencia....

langit paling luas, ialah hati tanpa kebencian. maka, jadilah engkau laut
yang membebaskanmu dari harapan yang mungkin mengganjal di pikiranmu "aku memotong kata-katanya yang menyudutkan dirinya sendiri"

Usai ku berucap demikian kamipun diam untuk beberapa saat. Sesaat kemudian ia beranjak dari pangkuanku dan beranjak dari haribaan rerumputan yang dianggapnya sebagai permadani.

Tanpa sepatah katapun ia meninggalkanku, di rerumputan sembari memandangnya yang mulai menjauh dari pandanganku. Indah harapku kita bisa berjumpa kembali di lain waktu, dimana tak ada kesedihan yang melekat di kehidupanmu.

Indah pernahkah engkau lihat lembayung di langit saat sang Surya hendak Temanaram, malam pun berbintang tak lagi suram, pernahkah engkau rasa apa yang aku rasakan, ketika bibirmu melengkung dan aku membalas dengan senyuman.

Indah merindumu membuat hidupku tak berarti....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar