Minggu, 24 Mei 2015

Aku jerami namun gengsi

Hidup penuh gengsi kadang membuat kita lupa segalanya, lupa kalo kita berasal dari mana? Lupa siapa kita? Bahkan lupa tetesan keringat yang menetes begitu derasnya. Asalkan kita bisa berbuat apapun yang kita sukai tanpa memikirkan siapa kita? Bukankah dari jerami? Atau mungkin dari cemara yang di sebut kalo itu asal kita.

Kita jerami tumbuh di bawah yang harus tergopoh untuk menuai hidup, berjuang demi mendapat pujian dari tanaman lain lalu di cabut karena itu hama buat tanaman yang lainnya. Atau kita cemara yang berdiri tegap, dengan angkuhnya dia berucap "akulah pohon kesempurnaan" berwibawa, memiliki derajat tinggi dari kesemua yang ada di sekitarnya, di hormati dari semua kalangan, tapi ia lupa api unggun menantimu. Kau siap di korbankan untuk menjadi kayu bakar dan lenyap menjadi abu.

Tapi ini aku...
Aku adalah jerami yang tidak patut untuk di perhitungkan, tidak memiliki arti bagi orang lain, yang hanya bisa hidup sekerlik mata yang akhirnya di buang karena dianggap hama buat orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar