Indah...
Dia.. gadis yang kutemui sore itu.
bertukar senyum canggung kala senja itu. Mengenakan kacamata Minus, dan di padankan gaun nan indah sesuai namanya.
Dia.. gadis bernama tanpa kata. duduk berkhayal di samping danau. memandangi airnya yang tenang dibasuh hujan.
Dia.. gadis sepi panggilannya. beraga kuat terlentang diatas rumput basah. dia bilang, setiap malam dirinya hanya diselimuti duka dengan bantalan air mata.
Dia.. si gadis pemilik mata bulat yang hitam. tak ku temui setitik kejelekannya. namun sering kali ia meratapi nasib asanya. dia bercerita, "aku ini bagai bintang laut yang selalu menatap bintang malam yang bercahaya namun tenggelam di tengah samudera. bertanya, mengapa hanya aku yang tak terang?". Ingin ku menjawab dengan jawaban yang bisa membuatnya menjadi tangguh, namun apa daya kuhanya bisa mengangguk, dengan sedikit mengerenyitkan dahi. Tanda kebingungan dalan anganku.
Dia berucap sesekali dalam sedihnya, senyun dalam sedihnya. Bercerita tentang jati diri yang kelam. Sehingga membuatku terbawa dalam sedihnya, sampai aku adalah peran utama yang sedang ia ceritakan.
Berasambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar